Tampilkan postingan dengan label ♥ my ♥ deepest ♥. Tampilkan semua postingan
1 Februari 2013, saya resmi jadi PENGANGGURAN. Ya, status yg banyak dirisaukan teman-teman seangkatan saya yang lulus bareng. Job Fair sana, Job Fair sini...! Saya ga bilang bekerja itu salah sih.... bagus banget malah. Dengan link yg dimiliki sama perusahaan kita, kita jadi bisa kenal buaaaanyak bgt orang. *flashback* Berhubung saya sekarang nganggur, mungkin cerita di blog ini bukan lagi report dan check in harian saya di Foursquare deh.. hehe. Tapi lebih ke kegalauan saya yang lebih enak disebut "Shocking Culture". Tujuh tahun merantau ternyata ga serta merta bikin saya jadi orang yang lebih fleksibel. Tapi.. malah bisa dibilang saya jadi frontal. Merasa tau mungkin..., iya mungkin sih.... Tapi saya lebih suka menyebutnya idealis bermimpi. Nah lho....
Baiklah,
Sedikit cerita... setelah di semester tujuh saya magang di kantor Humas Kampus, abis itu kerja di Media "Harjo", Harian Jogja, saya merasa harus berjuang keras untuk berani nganggur. Yap! Banyak teman yang kaget. "Kok resign? buat aku, cari kerja itu susah...," itu komentar salah satu sahabat. Yaa.. memang tiba-tiba rasa bersalah muncul sih.... apa iya bener mau resign? Apa iya bener mau usaha? berani lo? modal apa? Ga modal... dodoooooollll. Ya itu lah yang saya jalani sejauh ini. Usaha tanpa modal. Sepeser pun. Nyatanya jalan.
Oke deh balik lagi.
Surat resign selesai dibuat ga lebih dari 5 menit. Browsing, edit edit dan taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... sampailah di ruang SDM dengan sesenggukan karena respon Manajer SDMnya justru mengharukan. Tapi.... ketambahan kondisi Ibu yang bikin cemas, saya tekadkan mau ga mau harus pulang. "Mbangun deso" deh.. jadi pengusaha di Purbalingga, buka lapangan kerja, punya kantor di rumah, bisa ikut organisasi kemasyarakatan, bla..bla..bla....
Dana suntikan dari pacar yang sekarang statusnya adalah calon suami, akhirnya saya belikan mesin jahit. Saya pikir, akan semudah latihan nyanyi Lagunya Adele yang Rolling in The Deep itu.... hahaha.
Tapi rupanya...setelah nyeburrrrrr,,, saya baru tau kalau airnya keruh *nah lo sarkastik*
Tiap hari ribuuuuutttt aja sama ortu.
Kata temen-temen sih "mindset" lama.... punya anak lulusan Sarjana, apalagi sempet ketempelan prediket lulusan terbaik ala Jurusan, bikin saya serasa punya beban hidup,,,, "tatapan mata orang se Purbalingga". Hahahaha.... kayaknya jadi malu bgt gitu, kalo punya anak lulus sarjana kagak kerja. Halooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo??????? ada di dunia mana saya sekarang ini?
Beberapa hari yang lalu saya masih ketemu Mas ALi yang sukses sama Makanan Jepang "Tuan Mudanya", saya masih ketemu klien-kliennya Harjo yang ceritain kesuksesan mereka sampai hutang-hutang.....
dan disini, semua orang benar-benar berharap dapet kerja. Itu kereeeeeennnnn, sepertinya.
Yah emang sih.. kalau saya lagi waras, mikirnya "iya juga... aman, nyaman, tenterem, hutang bank gampang,..." hahah.... gitu ya.... *sinis*
Tapi.... ada yang hilang... bener-bener ada yang hilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang.
Saya ga bisa lagi cerita mimpi saya dengan menggebu-gebu. Saya ga bisa lagi semangat menceritakan ide-ide dadakan saya. Oh My Goooooooooooooooood.
Calon suami saya bilang ini tantangan baru.
Kalau gitu... saya cuma bisa berdoa, semoga cepat-cepat dibukain pintu kesempatan. Sambil terus cuek bebek, sambil terus online dan baca semua hal yang bisa dibaca.
*desperatelyspeechless* Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... T.T
Pagi ini, dgn semangat penuh
*walau lagi puasa*, motorku melaju kencang di jalanan.. rute dari Griya Harjo,
sampe ring road perempatan Dongkelan, mau ke Rumah Sakit Panembahan Senopati,
Bantul. *hehe..penjelasannya ga penting ya*.
Di tengah-tengah nge-gas dan
nge-rem, aku memilih berhenti di kiri jalan tepat sebelum lampu merah
perempatan.. Pengamen yang pakai kostum barongan dan topeng mirip wayang jahat
itu lari tunggang langgang ke belakang sebuah took baju. Alat-alat musik
mereka, gamelan, dll, ditinggalkannya lari… Rupanya seketika petugas berbaju
warna khaki muncul. Satpol pp. “Razia!!!!”. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin
sekali berteriak “Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!”
Aku kasihan.
Seharian klenongan pun mungkin
hasilnya ga seberapa.
Jadi keinget, waktu nganterin
tamu dari Malaysia,
Prof Adnan sekeluarga, mereka heran dan bertanya kenapa di tiap lampu merah
banyak orang menari-nari. “Mereka cari uang”, kataku. Ngamen…
Sedetik kemudian aku yang heran..
“Apa di sana ga
ada pengamen?”
Mungkin kapan-kapan aku perlu ke Malaysia..
Untuk melihat apa di sana
memang tidak ada pengamen… Jadi…?
Bu Retno, wonder woman, single parent.
Di sebuah rumah susun dia tinggal. Sekilas, rumah susun itu tampak seperti asrama mahasiswa yang masih baru. Pertama kali aku mendatangi tempat tinggalnya, aku takjub. Setahuku, rumah susun itu kumuh. Ini mungkin persepsiku akibat tayangan-tayangan di Televisi yang selalu menampilkan rumah susun yang tampak kumuh, berisi jemuran-jemuran yang digantung sembarangan, dan anak-anak putus sekolah. Tapi rupanya, rumah susun ini rapi. Ada satpam yang siaga di mejanya untuk meminta identitas tamu yang datang. Entah untuk apa, mungkin, supaya aman? Aku tidak pernah sempat menanyakan, karena selama aku berkunjung ke rusun ini, aku cukup menyapa satpam sambil nyelonong masuk ke area parkir sebelah dalam.
Bu Retno bercerai dengan suaminya empat tahun lalu, itu menurutnya. Alasannya, KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sampai sekarang, mantan suaminya, yang sering disebut ‘mantanku’ oleh Bu Retno masih sering menghubunginya. Itulah yang membuatnya sering kali tidak mengangkat teleponku setiap kali aku mengambil jahitan di rusunnya, “di-silent Mbak,” dan membuatku harus menaiki tangga empat lantai untuk ke kamarnya.
Kamar yang cukup sederhana. Ada tiga ruangan yang disekat di sana. Ruangan depan seluas tiga kali tiga meter, digunakannya untuk ruangan santai. Ada Televisi, Karpet, dan Dispenser di sana. Kadang, saat-saat tertentu, ada kasur tipis juga tergeletak di atas karpet hijau yang menutupi lantai ruang itu. Satu ruangan di belakangnya, lebih sempit, dan penuh dengan tumpukan kain, baju, dan perca. Ada sebuah alat jahit usang di salah satu sudutnya, alat jahit berpedal yang mirip dengan alat jahit dirumah nenekku. Diberi lampu kecil, seolah itu adalah meja belajar yang digunakannya ketika malam. Ada sebuah boneka manekin yang dibalut kebaya berwarna oranye, manis sekali. Dengan bangga dia selalu menceritakan kalau itu adalah seragam keluarga untuk pernikahan keponakannya.
Sejak perkenalanku dengannya bulan lalu, sudah beberapa kali aku kemari. Seminggu dua kali, aku selalu mengantar kain dan mengambil jahitan darinya. Dari keempat penjahitku saat ini, Bu Retno adalah penjahit yang sebenarnya paling tidak rapi jahitannya. Sudah beberapa kali aku memberinya pengarahan, tapi rasanya sama saja. Tapi ya sudahlah, aku tidak tega untuk tidak memberinya order jahitan. Lagi pula, tiga penjahitku tidak sanggup memenuhi pesanan yang setiap hari semakin banyak. Aku memiliki empat kenalan penjahit, keempatnya berbeda karakter, berbeda visi, tapi mereka semua perempuan. Bu Retno tinggal berdua dengan anak lelaki bungsunya. Anak lelaki sulungnya sudah berkeluarga.
Dari awal menatap matanya, aku tahu ada sesuatu di balik bola matanya. Entah kenapa, setiap kali ngobrol dan bertemu pandang, aku ikut merasa pedih. Bola mata dan keriput di sekelilingnya, membuatku yakin kalau Bu Retno sudah sangat banyak makan asam garam kehidupan. Aku seringkali menebak-nebak apa yang sudah pernah dialaminya, benar-benar membuatku penasaran. Bu retno yang agak genit dan selalu memanggilku dengan sebutan yang berbeda dari orang kebanyakan. “Mbak In”. Dia selalu saja punya alasan setiap kali jahitannya telat, aku hanya mengiyakan sambil tersenyum simpul. Aku tahu dia berbohong, hanya saja aku berusaha memaklumi kalau pekerjaannya memang menyita banyak waktunya.
Bu Retno bekerja siang hari di sebuah rumah batik yang besar. Jam kerjanya membuatnya merasa tidak sempat mengerjakan ‘pekerjaan yang lain’. Yah, maksudnya adalah pekerjaan sambilan, seperti mengerjakan order dariku, misalnya. Satu yang membuatku iba padanya, dia selalu saja mengeluhkan majikannya. “Mbak In, saya itu kerja dari jam delapan pagi sampai empat sore, tapi gajinya kecil sekali,” begitu dia selalu saja mengulang hal yang menurutnya memberatkan itu. Katanya, sering dirinya dan tenaga kerja yang lain diminta lebur, tetapi hanya mendapat bonus semangkuk mie ayam. Padahal, masih menurut Bu Retno, majikannya dalam beberapa tahun saja sudah melipatgandakan mobilnya. “Dulu mobilnya dua, sekarang empat.”
Aku semakin tidak yakin kenapa aku ingin menjadi pengusaha. Mau kaya? Mau mandiri? Mau punya segalanya? Di Indonesia, atau paling tidak, di beberapa seminar tentang kewirausahaan yang aku ikuti, kebanyakan berbicara masalah materi. “Orang yang bisa menjadi kaya raya, ya, pengusaha.” Dulu, tiga atau empat tahun yang lalu, aku memang salah satu orang yang ingin sukses dan kaya. Tapi beberapa tahun terakhir, aku sadar kalau seberapa pun uang yang ku miliki, akan habis untuk waktu yang singkat. Pakai saja uangnya untuk belanja, atau beli rumah, beli mobil, senang-senang dengan pacar, ludes sudah. Aku yakin ada yang lebih besar, jauh lebih besar dari itu. Salah satunya, mungkin, mengenal orang seperti bu Retno. Wanita separuh baya yang masih terlihat centil, dan gigih. Untuk memenuhi kebutuhannya, dia sering sekali mendatangi rumah teman-temannya untuk menawarkan diri membetulkan jahitan teman-temannya itu. Berbekal mesin jahit berwarna putih yang cukup kecil di dalam tasnya. Tapi hal itu, dilakukannya sebelum semua barangnya dijual oleh ‘mantannya’.
Ada yang aku suka darinya. Saat berpamitan pulang dan mencium tangannya seperti yang kulakukan pada Ibuku sendiri. Itu menyejukkan. Walau dihatiku masih ada keraguan apakah hubungan yang kuanggap tulus ini juga dianggapnya tulus. Apakah dia cuma menganggapku “seorang mahasiswi yang berusaha jadi pengusaha, dan memberinya order”. Tapi apa pun yang dia pikirkan, aku yakin Sang Pencipta lebih tahu. Aku hanya berusaha mengikuti kata hatiku saja. Ini yang sekarang aku inginkan, yang membuatku hidup, walau pun ini juga yang membuatku sering mengeluh saat kegagalan-kegagalan datang menghiasi hari-hari terakhirku.
Saya merasa ditampar. Satu Badan. Ketika kemarin sore, seorang moderator diskusi menawarkan diri membacakan doa karena dalam diskusi itu memang tidak disiapkan pembaca doa.
“Ya Allah, kami di sini, berada dalam gedung kampus kami tercinta. Kampus Islam yang kami namai Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kami mengaku Islam, tapi kami belum Islami. Masih berpakaian ketat, masih merokok di pinggiran jalan, masih sering berbuat dosa.
Ya Allah, kami butuh pemimpin. Pemimpin yang berani mengambil resiko demi rakyatnya. Pemimpin yang menangis melihat rakyatnya menderita. Pemimpin yang marah melihat rakyatnya dibodohi. Dan pemimpin yang berlinangan air mata saat bersimpuh di malam hari..”
Doanya masih panjang, tapi kira-kira dua paragraf itulah yang paling saya ingat. Dan setelah selesai membaca Al-Fatihah di akhir doa, segera saya menatap moderator itu. Saya sudah menduga, matanya merah dan hidungnya terlihat basah. Cukup jelas dari tempat saya berdiri, tepat lurus di depannya dengan jarak sekitar 15 meter.
Untuk keperluan berita, saya wawancarai dia. Setelah mendengar jelas, ternyata namanya Inu Kencana Syafi’i. Pribadinya benar-benar hangat. Seketika kami seperti teman lama yang baru bertemu. Hanya saja, yang diceritakannya sama sekali tidak bisa dibuat rilis ;) tapi lebih dari itu, yang dikatakannya adalah sebuah petuah hidup.
Yang sangat menyentuh adalah saat dia menatap mata saya dan bilang, “Islam itu Indah! Islam itu pilihan yang paling Indah! Terorisme itu bukan Islam!”. Lalu dengan tegas dia menunggu respon saya atas kata-kata itu. Lalu dia bilang, “di tengah perjalanan hidup saya, saya MEMILIH Islam”. Artinya? Silahkan disimpulkan sendiri..off the record soalnya ;) hehehe.
Dia ceritakan pada saya bagaimana dia juga memberlakukan hal itu pada istrinya. “Kalau tidak serius, tidak perlu Islam”. Seketika dia memberi saya Buku, Buku karangannya berjudul Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia (Refika Aditama, Bandung – 2003). Buku itu dikeluarkannya dari tas kopernya. Tidak bersampul, tidak baru. Bukunya sudah lusuh, dan kecoklatan. Tapi entahlah, saya senang sekali! Saya bilang, “Pak, TANDA TANGANNYA mana?” *maklumYa,mahasiswa*
Karena sibuk dengan mengetik BAB 1 skripsi yang kemarin LBMnya direvisi habis-habisan sama dosen pembimbing, buku itu belum saya sentuh. Tapi sudah ada di sebelah kasur. *tanda kalo buku harus di baca* hehehehe.
..................
Siang ini, sedikit iseng karena tidak ada liputan, saya ketik namanya di google. Inu Kencana Syafi’i. Dan muncul di wikipedia dengan judul buku karangannya :
* Al-Quran, Sumber Segala Disiplin Ilmu (Gema Insani Press, Jakarta – 1991)
* Pengantar Ilmu Pemerintahan (Eresco, Bandung – 1992)
* Etika Pemerintahan (Rineka Cipta, Jakarta – 1993)
* Sistem Pemerintahan Indonesia (Rineka Cipta, Jakarta – 1994)
* Filsafat Kehidupan (Bumi Aksara, Jakarta – 1995)
* Ilmu Pemerintahan dan Al-Quran (Bumi Aksara, Jakarta – 1995)
* Hukum Tata Negara (Pustaka Jaya, Jakarta – 1995)
* Ilmu Pemerintahan (Mandar Maju, Bandung – 1996)
* Al-Quran dan Ilmu Politik (1997)
* Al-Quran dan Ilmu Administrasi (1997)
* Ilmu Administrasi Publik (1998)
* Logika, Etika, dan Estetika Islam (Pertja, Jakarta – 1999)
* Ekologi Pemerintahan (Pertja, Jakarta – 2000)
* Analisa Politik Pemerintahan (Pertja, Jakarta – 2000)
* Manajemen Pemerintahan (Pertja, Jakarta – 2000)
* Filsafat Pemerintahan (Pertja, Jakarta – 2000)
* SANRI (Bumi Aksara, Jakarta – 2003)
* Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia (Refika Aditama, Bandung – 2003)
* Birokrasi Pemerintahan Indonesia (Mandar Maju, Bandung – 2003)
* Pengantar Filsafat (2005)
* Filsafat Politik (2005)
* Ensiklopedia Pemerintahan (2005)
* IPDN Undercover (Progessio Syaamil, Bandung – 2007)
Satu kali lagi saya tertampar. Pemilih Islam di tengah jalan, ternyata mengawali karir menulisnya dengan Buku berjudul “Al-Quran, Sumber Segala Disiplin Ilmu”. Saya baru sadar, kenapa sepanjang sore kemarin saya heran dengan Pak Inu yang selalu saja mengaitkan pembicaraan tentang kepemimpinan dengan model kepemimpinan Rasul dan kenapa beliau selalu menanggapi kata-kata Mantan Sekretaris JK dengan ayat Al Qur’an. Dan terakhir, menjawab pertanyaan saya kenapa ada moderator yang dengan centil menawarkan diri menjadi pembaca doa di akhir acara. ;)
Setelah melihat dan kagum dengan profilnya yang muncul ke Media sebagai “pembongkar kebusukan” salah satu Institusi Pendidikan Pemerintah, saya menghabiskan waktu dengan googling kisah 25 Nabi dan Rasul, juga mulai menata otak saya dengan inspirasi dari Pak Inu. Tokoh hebat dengan handphone hitam putihnya, tokoh hebat yang ngotot bicara saat diancam akan dibunuh, dan tokoh hebat yang bersedia memberi ceramah pada saya kemarin sore. Semoga sedikit demi sedikit, saya bisa belajar Islami. Dan semoga menjadi Inspirasi ;)
__Intanian__
BHP UMY, 4 November 2011
Kita rindu nasionalisme.
Merasakan keutuhan sebagai manusia yang saling membutuhkan.
Kita mendamba melakukan sesuatu.
Hati kita teriris saat melihat orang lain susah.
Tapi apa daya, ternyata teriakan uang lebih lantang terdengar, ketimbang bisikan nurani yang letaknya jauh di dalam hati.
Tertutup suara-suara kepentingan, persis seperti di dalam pasar saja.
Ya..Pasar!
Di pasar, sendal jepit lusuh pun bisa laku, saat ada orang butuh sandal tapi tidak punya uang.
Di pasar, ayam bisa disuntik sebelum disembelih agar menjadi gemuk sesaat, demi timbangan yang lebih berat dari yang seharusnya.
Kurma disuntik dengan air gula, agar terlihat mengkilat dan rasanya lebih manis. Sepertinya penampilan seperti itu lebih menarik untuk dibeli.
Di pasar, apapun bisa dilakukan.
Apapun bisa dibeli.
Dan siapapun bisa membeli, saat dia punya uang.
Dan di depan mataku, pasar yang seharusnya berisi sembako dan kebutuhan hidup orang itu berubah menjadi pasar di mana segala milik manusia bisa dibeli dengan uang.
Satu orang ‘berduit’ bisa membayar seratus orang untuk berbohong.
Semua bisa dibeli.
Negara kita sudah selayaknya toserba yang sangat lengkap.
Ijasah bisa dibeli. Ide bisa dibeli. Pendidikan bisa dibeli. Status sosial bisa dibeli. Wanita bisa dibeli. Masa depan bisa dibeli. Kejujuran bisa dibeli. Kebohongan pun tak mau kalah laku.
Kita rindu nasionalisme!
Itulah kenapa film bertema kepahlawanan selalu membuat kita terharu mengenang masa lalu. Masa-masa perjuangan. Perjuangan untuk Negara. Perjuangan untuk Agama. Perjuangan untuk Cita-Cita. Dan bahkan, perjuangan untuk Menjadi Diri sendiri.
Itulah sebabnya lagu tentang Guru Oemar Bakri yang bersepeda ketika bekerja selalu menjadi legenda. Itulah sebabnya Lagu tentang Nusantara menjadi rasa bangga.
Kita rindu nasionalisme!
Maka, benarlah jika kita butuh untuk bersatu. Bersatu dalam kebaikan, jauh di atas kepentingan nafsu.
Kita pernah berjuang untuk merdeka, karena kita merasa kita bangsa yang bermartabat.
Lalu kemana perginya rasa bermartabat itu?
Apa membeli ijasah membuat seseorang jadi sarjana yang bermartabat?
Kita punya hati.
Biarkan dia bicara, biarkan dia bicara jauh lebih lantang dari suara uang. Kita memang butuh uang. Tapi uang belum cukup sakti untuk membeli pertanggungjawaban kita pada orang tua, keluarga, Negara, dan agama.
Kita boleh kaya. Tapi kaya-lah dengan bermartabat.
Mengakulah. Beranilah. Katakan yang paling kita yakini.
Jangan biarkan nasionalisme itu terkurung di dalam hati, dan meminta untuk disuntik mati.
Yogyakarta, 23 September 2011 05.56am
__Intanian__
Melon yang bulat itu membawaku mengagumi seseorang. Petani Melon. Lebih tepatnya, pengusaha Melon, karena beliau sebenarnya punya puluhan petani yang menggarap kebun melonnya. Dari 500m², dalam 5 tahun kebunnya menjadi sekitar 5000m².
Dari beberapa baris di atas, sudah jelas beliau ini orang yang tekun dan pantang menyerah, ditambah hemat. Kalau pengusaha boros dan konsumtif, mungkin usahanya pun tidak akan membawa hasil yang mantap seperti Bapak di atas. Tapi ada satu hal menarik lain yang membuatku belajar. Beliau bilang kalau ada sebuah filosofi hidup yang harus selalu dipegang, “Kita jangan menentang alam”.
Tahu kalau alamnya adalah alam tropis, dimulainya berkebun melon. Tentu saja, dengan jatuh bangun, laba rugi, tawa tangis, sedikit demi sedikit ilmu tentang melon pun beliau dapatkan seiring pengalaman.
Ada satu penjelasan yang membuatku pada akhirnya mengaku bodoh pada sebuah Melon. Sampai pada usia tiga bulan dan jumlah daun tertentu (ditambah sudah berbunga), ujung pohon Melon dibuang tunas-tunas mudanya. Tentu saja, hampir mirip tumbuhan lain, hal itu dilakukan demi perkembangan buah yang bagus. Seberapa pun banyaknya bunga yang muncul di satu pohon, harus disisakan hanya DUA bunga saja. Sampai buahnya muncul dari bunga, harus dipilih yag paling bagus dan dimusnahkan satu (yang lain). Jadi hanya akan ada satu buah untuk satu pohon.
Tiba-tiba saja aku benar-benar memikirkan sesuatu, tepatnya.. “dibuang satu untuk memaksimalkan yang lain”. Dan pada akhirnya, si pemilik kebun pun tidak bisa rakus dan berharap satu pohon Melon yang merambat itu akan memberinya buah lebih dari satu. Tidak bisa, bila dia menginginkan melon itu berkembang maksimal. Tentu saja, kalau kita amati benar-benar, hal ini terjadi pada banyak hal. Dalam kehidupan kita : pilihan hidup, memilih kesempatan, bahkan memperjuangkan sebuah hal. Dan tidak bisa dipungkiri, mungkin inilah yang dilakukan pula oleh para pemimpin.
Dalam hidup kita, mungkin akan ada banyak kesempatan yang datang. Bisa jadi, saat mencoba semua itu dengan serius, kita akan merasa kita orang yang berbakat dalam banyak hal, namun bisa juga sebaliknya : ternyata kita hanya berbakat dalam hal tertentu saja. Itulah gunanya mencoba banyak hal. Tapi negatifnya, tentu saja waktu kita lebih banyak terbuang daripada mereka yang sedari awal bertahan fokus pada satu hal saja. Karenanya orang bijak bilang, “Kita tidak mungkin belajar segala hal dengan waktu kita yang terbatas. Maka belajarlah dari orang lain. Terlebih untuk sebuah kesalahan”.
Lalu pikiranku terbang pada korban kelaparan di Somalia. Pemberitaan di harian nasional berikut fotonya sempat membuatku meneteskan air mata saat membacanya. Demi mencari makanan, mereka harus berjalan jauh sekali menuju posko bantuan. Jaraknya harus ditempuh selama lima hari berjalan kaki. Dan bukan hal yang asing lagi, dalam perjalanan itu seorang Ibu terkadang harus “memilih” anaknya. Memilih untuk apa? UNTUK HIDUP. Diberitakan di sana banyak Ibu yang di tengah-tengah perjalanan harus memilih mana anaknya yang akan dia selamatkan. Satu Ibu di sana bisa berjalan kaki dengan membawa 4-5 orang anak yang kesemuanya tentu saja memiliki kondisi fisik yang berbeda. Saat ada yang sekarat di tengah jalan, sang Ibu terpaksa meninggalkannya demi kehidupan anak yang lainnya. Terbayangkan betapa ngerinya keadaan itu? Dan itu terjadi tidak hanya pada satu orang di sana. Tapi beberapa orang, banyak malah.
Tentu saja, aku tidak akan membahas peran pemerintah atau siapapun dalam fenomena di atas. Cukup baca di banyak media, kita akan dapat keterangan panjang dari sana.
Tapi hal yang aku ceritakan di atas membuatku berpikir sekaligus bersyukur. Pengusaha Melon dan Ibu di Somalia sama-sama melakukan sebuah keputusan memilih, walaupun tentu saja ujiannya jauh berbeda. Tapi kita bisa belajar dari sini. Bahwa ternyata sebuah bentuk ujian itu punya kesulitan yang bertingkat. Bapak Melon itu mungkin cukup meredam kemauan ‘rakus’nya demi melon berkualitas yang jauh lebih tinggi harganya di pasaran, sedangkan ibu di Somalia harus meredam ‘sakit’nya kehilangan anak karena terpaksa, demi kelangsungan anaknya yang lain, dan mungkin juga harus susah payah meredam kemarahannya pada Tuhan.
Ada kehidupan yang harus direlakan untuk sebuah kehidupan yang lain. Kehidupan yang mungkin lebih “mungkin”. Tapi bukan main-main, itu atas dasar pengetahuan.
Mana bisa Bapak Melon memilih Melon yang lebih bagus kondisinya kalau beliau tidak tahu cirri-ciri Melon yang bagus? Itu karena beliau belajar. Dan seorang Ibu pun harus bisa membedakan mana anaknya yang sekarat dan lebih sekarat, demi mencari peluang hidup di antara anak-anak terkasihnya. (Astaga! Peluang hidup..? baru nyadar kalo pake kata peluang hidup…aku jauh-jauh berkata “Bangun Indonesia!” tapi di ujung bumi ini masih ada yang untuk hidup saja harus mencari peluang. Semoga kondisinya cepat membaik, amin.)
Hampir saja mengakhiri tulisan, tiba-tiba pikiran ini melayang ke acara akbar Minggu depan bagi masyarakat Yogya. “Pemilukada 2011”. Yah, aku tersadar, program berbeda dari masing-masing calon juga mungkin melalui tahap memilih tadi. Menyelamatkan yang lebih mungkin diselamatkan. Dan pada akhirnya, “yang diselamatkan” tadi akan merujuk pada pengetahuan para calon pemimpin itu. Mau pilih kemiskinan, kebudayaan, kesejahteraan, ketradisionalan, wanita, rakyat kecil, atau apapun itu, mungkin adalah hasil dari proses menimbang “mana yang lebih mungkin diselamatkan” di tengah-tengah pilihan sulit di negeri ini. Satu dibela, yang lain demo. Yang itu dibela, yang ini demo. Tapi yang jelas, semoga dasar pengetahuan yang dirujuk para calon pemimpin itu benar-benar akan dilakukan dan terasa manfaatnya. Sepakat kalau itu =)
Teringat kata seseorang yang baru saja kutemui beberapa hari lagi. “Kalau ga mau milih, seseorang ga berhak mengkritik. Karena sebenarnya dia ga mendukung apa-apa”. (SUMPAH ya, ini bukan kampanye Anti Golput! Hehe,). Sayangnya, KTP-ku bukan KTP Jogja. Aku ga bias milih besok.. walaupun aku ingin sekali memberi kontribusi. Aku berharap akan ada banyak pemuda yang peduli masa depan bangsanya. =)
Akhirnya.., *ngantuk. =)
Tapi semoga kita bisa sama-sama belajar. Meredam Egoisme, bertanggung jawab dengan besar hati segala resiko atas pertimbangan yang matang, lalu bersyukur. Bersyukur karena hidup kita selalu banyak pilihan =) Artinya kita masih dipercaya untuk memilih, memutuskan, dan melakukan hal-hal baik untuk diri kita. Dan terlebih lagi, untuk orang-orang di sekitar kita.
Dan setelah mengaku bodoh pada melon, mungkin besok-besok aku akan mengaku bodoh pada buah yang lain =)
Ada ide..?? ;D
Jogonalan Lor, 3:51 am.
Rabu, 21 September 2011 __Intanian__
Ada sebuah hal ironis yang mungkin terjadi di balik kesuksesan sesuatu. Ada yang terlupakan, seringkali terlupakan.. dan bukan jarang hal itu justru hal yang sangat kita butuhkan. Seseorang yang selalu siap meng-handle apa saja tanpa mengeluh, mengurusi hal-hal kecil yang sering terabaikan tapi membuat panik saat dibutuhkan. Tapi orang itu justru terlupakan saat agenda foto bersama.
Pada saat itu, kesempatanku adalah bergabung dalam sebuah kepanitiaan yang tidak seperti biasanya. Aku berada di tempat aku bisa menonton semua pertunjukkan di balik layar. Ada satu hal menarik, yang terjadi di mana-mana dan kita seringkali tidak sadar dengan apa yang telah diperbuat beberapa komponen yang ‘kurang dianggap’ itu.
Entahlah,, yang merasa bos duduk dan memerintah kesana-kemari. Seketika mengubah semua susunan yang sudah dengan susah dibuat, lalu membuat malu beberapa orang kecil dengan tingkahnya. Tapi sepertinya rasa malu itu tidak berbuntut panjang, pada orang kecil.
Aku melihat dengan seksama orang-orang di bawah kebanyakan justru orang-orang dengan kesabaran super tinggi. Bahkan dengan semua hal sepele-yang penting- yang mereka kerjakan, mereka tak terpikir sedikitpun untuk ikut difoto (momen di mana semua orang ingin eksis utk dikenang). Aku terkagum-kagum pada manusia jenis ini. Diberi kekuatan dan ketekunan penuh, dengan sedikit hasrat untuk muncul ke permukaan.
Hal ini tentu saja menjadi renungan tersendiri buatku. Aku terbiasa di depan, dalam sebuah acara biasanya aku di bagian paling strategis. Ketua, sie acara, atau korlap. Apa yang kutonton kemarin mungkin refleksi, sekaligus pengingat buatku. Bahwa sebuah kesuksesan, apapun bentuknya, adalah sebuah pengorganisasian yang baik dari seluruh komponen, baik komponen yang kecil maupun yang besar.
Apa yang paling ditunggu panitia? “pengunjung acara yang banyak”.
Apa yang paling diinginkan panitia? “Acara lancar, semua job desk selesai tepat waktu tanpa ada yang terlewat”.
Mungkin dari dua pertanyaan itu kita bisa sadar, bahwa tidak ada yang boleh dilewatkan : pengunjung (yang kadang-kadang termasuk orang yang tidak terpikir bakal datang), dan orang-orang yang mengamankan hal kecil (seperti amplop atau map yang sering terabaikan). Hal ini membuatku semakin yakin, tidak ada orang yang akan benar-benar sukses tanpa menghargai hal kecil. Semua komponen harus dirangkul. Tamu mahal yang dihadirkan mungkin menjadi ‘barang penting’ untuk difoto bersama kita. Tapi itu tidak akan bertahan lama ‘sukses’nya saat kita melupakan komponen kecil yang justru mengamankan hal-hal kecil yang justru banyak diabaikan orang.
Aku jadi teringat lilin, lilin yang dicari hanya saat lampu mati. Mungkin begitulah kira-kira. Hal ini menjadi pelajaran tersendiri buatku. Terima kasih, atas kesempatan belajar tentang ini, Tuhan.
Jogonalan, 12 Agustus 2011
__Intanian__
Detik di lampu lalu lintas menunjukkan angka 3 berwarna hijau, sedangkan posisi motorku masih kira-kira 30 meter dari perempatan. Hati ini lalu galau, “tarik aja apa berhenti ya?” akhirnya rem motor kuinjak, berhenti. Tapi lalu menyesal karena ternyata angka merahnya dimulai dari detik ke 97. “Mampus! Telat!” itu hal yang pertama kali muncul di benak. Tapi lalu motor di belakangku langsung saja menerobos lampu itu dengan kencangnya. Dan jadilah dia bingung karena sebelum berhasil melewati perempatan, kendaraannya terhadang laju kendaraan dari arah kiri yang tentu saja sudah hijau dari beberapa detik tadi. Puluhan kendaraan yang seolah sangat kompak itu pun memaksanya berhenti di tempat yang tanggung, resikonya tentu saja, tilang. Tapi beruntung dia tidak tertabrak.
Aku yang sedang terburu-buru karena harus presentasi penting, tiba-tiba terus-menerus memikirkan hal ini. Sepanjang jalan, bahkan sampai beberapa hari kemudian.
Hidup kita, tentu saja tidak akan pernah selalu bahagia dan tenang-tenang saja. Akan ada banyak waktu saat kita menemukan perempatan-perempatan yang memaksa kita membuat pilihan. Dan pilihan itu selalu ada resikonya. Kadang kita hanya perlu meyakinkan diri atas pilihan yang kita ambil. Saat aku memutuskan berhenti (seperti analogi di lampu merah tadi), ada sedikit penyesalan datang, tapi lalu keyakinanku diperkuat saat melihat seorang yang ‘nekat’, dan merasa sedikit lebih beruntung karena berhenti di tempat yang tepat. Sepertinya aku membandingkan resiko dengan orang nekat itu, walaupun mungkin kalau aku yang melakukannya tidak akan sama hasilnya karena aku beberapa detik lebih cepat.
Penekanan di sini adalah tentang pertimbangan, keputusan, dan penguatan. Aku selalu percaya kalau yang dimaksud dengan takdir adalah apa yang menjadi hal terakhir yang kita putuskan dan berbuntut pada resikonya. Mungkin analoginya terlalu jauh, tapi seperti nasihat senior di tempat magang, “Tulislah semua yang ada di kepala, jangan khawatir apa-apa dulu”. (Makasih Mba Dian ^^).
__Intanian__
Jogonalan, 7 Agustus 2011
Melihat banyaknya orang hilir mudik di depan mataku, aku berpikir.
“Mereka ini kesana-kemari mau ngapain ya?”
Pagi hari aku di kampus, ada yang sibuk, ada yang nongkrong. Hari ini aku jadi peserta pengisi nilai untuk sertifikasi salah satu dosenku. Siang hari aku memandangi sertifikat tutor yang baru saja aku dapatkan, bangga rasanya ;)
Sampai di posko, aku menemukan banyak orang dengan banyak kegiatan. Ada yang tidur, ada yang ngobrol, ada yang ngemil, ada yang sibuk menempel pengumuman. Oya, hari ini posko kedatangan satu tim lain, mereka KKN untuk pemilukada Yogyakarta yang kebetulan di markaskan di sini, di posko KKN-ku, Balai RK Gedongkiwo. Semangat baru! Jujur saja datangnya beberapa orang baru (yang salah satunya) bisa diandalkan, menyulut lagi semangatku.
Aku jadi semakin yakin dengan teori yang mengatakan “Beberapa orang dalam satu kelompok, yang bekerja paling-paling 20%-nya”. Pembuktian ke sekian kalinya ya di sini, di kelompok yang baru datang.
___________________________________________________________________
Sebenarnya, sebelum menulis tadi, ada satu hal yang terpikir. KONSEP. Yah, konsep hidup lebih tepatnya. Kadang aku berpikir, pada saat yang sama dan dalam kegiatan yang sama, kenapa frekuensi bekerjanya berbeda? Karena konsepnya berbeda. Setuju?
Dalam sebuah event, kalau ga ada konsep, acara pasti ga asik. Konsep itu rencana besar, rencana kasar, tema besar, strategi, yang nantinya kita akan membuat langkah-langkah kecil untuk mendapatkan yang besar itu. Sama seperti sebuah event, saat manusia tidak punya konsep, dia juga akan bingung dengan hidupnya. Tapi seringkali orang tidak sadar akan ini. Mungkin aku cuma segelintir yang ingat saat banyak yang lupa, tapi besok bisa jadi aku yang lupa diantara banyak yang ingat. Itulah hidup. Dan katanya kita, manusia, adalah tempatnya salah dan lupa.
Acara menulis itu selesai kemarin lantaran aku tiba-tiba bad-mood melihat beberapa kawan yang menghabiskan waktu di posko dengan sia-sia, tanpa kerja.
Dulu aku jauh dari dunia organisasi, tapi sekarang mungkin aku salah satu dari sekian banyak orang yang sudah tidak bisa -diam- tanpa berorganisasi. Pikiranku kesana-kemari, membayangkan ini dan itu, membuat konsep dan rencana-rencana untuk hidupku yang kadang tertunda-tunda karena terlalu menakutkan untuk benar-benar dikejar. Yah, itulah yang masih menjadi PR besarku. Aku masih penakut.
Hanya saja, Allah terlalu baik. Di sekelilingku banyak orang-orang hebat yang sepertinya akan selalu mengingatkan saat aku lupa.. dan menguatkan saat aku takut.
"Bentangkan peta yang luas itu,
Lihat di mana kita berdiri, lalu buatlah rute yg pasti utk menyelesaikannya.
Hitung waktu yg ada,
Lalu persiapkan semua amunisi sebaik mungkin.
Siap tancap gas! ;)
Ajaklah yg bisa diajak, dan tinggalkan yg perlu ditinggalkan ^_^"
__Intanian__
Yogyakarta, 23 Juli 2011
__Intanian__
“Sampai pada titiknya, manusia hanya akan sendirian.
Sendirian untuk sebuah tanggung jawab, yaitu menjadi manusia seperti hakikatnya.
Mungkin akan banyak yang datang dan pergi, menasehati, menyakiti, mengkhianati, sampai menyenangkan hati.
Tapi pada akhirnya akan berlalu,
Kita akan tetap kembali pada tanggung jawab kita : menjadi diri yang penuh tanggung jawab.
Tapi Tuhan telah memberi kekuatan yang sangat besar dan sekaligus sangat lemah : diri kita.
Kita hanya tinggal memilih, semua ada konsekuensinya masing-masing.”
__Intanian__
Hai, apa kabar dunia di luar sana?
Sampai hari ini, aku masih sibuk dengan kegiatan KKN-ku. Semangat membara itu akhirnya mengecil apinya. Ada banyak angin yang meniupku ke sana-ke mari, ada yang mengambil salah satu sumbu apinya, ada yang sengaja memercikkan air, dan ada banyak kenyataan yang tak mungkin membuat api ini berkobar semakin besar. Tapi positifnya, api ini tetap menyala.
Ada sebuah cerita di mana aku menemukan bahwa manusia memang makhluk yang kasat sekaligus tak kasat mata. Dan pencitraan itu benar-benar ada, disadari, atau tidak.
Seekor kucing rumahan yang mungil, bersih, dan terlihat menurut aturan, tiba-tiba saja tersesat di lingkungan anak macan. Melihat banyak persamaan di tubuh mereka, dia berusaha mengaum. Dia merasa harus menjadi anak macan, atau tepatnya ‘ingin’. Sebenarnya, saat kita tahu, mungkin anak-anak macan itu bukanlah anak macan. Mungkin anak kucing, yang terlihat seperti anak macan. Entahlah, tapi aku yakin anak kucing itu tersiksa. Dan kelihatan aneh.
Secara pribadi, aku menganggap ini adalah sebuah pelajaran. Pelajaran akan prinsip hidup, yang seharusnya secara naluri kita semua memilikinya. Prinsip itu pada saatnya harus di adu. Saat persiapan kita belum matang, mungkin kita hanya akan jadi pecundang yang bingung akan arah dan menyesal setelah tua, setelah banyak arah dicoba dan banyak waktu telah lewat sia-sia.
Tapi mungkin prinsip itu juga harus didapat setelah banyak menelan pahit.
Lalu sebenarnya di mana kuncinya?
Kita tidak pernah tahu bagaimana seseorang melalui hidupnya. Itu misteri Illahi.. menurutku, kita cuma perlu percaya, terus hidup dalam rasa percaya itu, sampai kapan? Sampai mati. Karena mungkin tidak pernah terbukti.. tapi dengan hal itu, kita aka menjadi orang baik. Hidup kita pasti akan baik.
Pikirkanlah, ada berapa orang di dunia ini yang bisa kita percayai sepenuhnya? Mungkin tidak ada. Mungkin diri kita pun tidak. Aku rasa, percaya pada mimpi itu lebih menjanjikan. Karena dia tidak akan berubah selagi kita terus memimpikannya.
__Intanian__
Yogyakarta, Balai RK Gedongkiwo, Jum’at 15 Juli 2011
"Aku ingin berbagi ini kpd semua yg merasa terpanggil utk mengambil tanggungjawab ;)
Utk menggerakkan sesuatu yg besar,
Cuma dibutuhkan satu generator.
Semakin besar yg harus digerakkan,
...mkin besar daya yg diperlukan.
Lalu kt pasti akan berusaha memperbesar daya-nya.
Ckp percaya saja, besarnya tgungjawab sudah pasti sama besar dgn pengalaman yg kt dapat.
Semangat ya! ;)"
__Intanian__
Itu bunyi statusku beberapa detik yang lalu. Hmm.. sekarang jam 10.16 lewat beberapa detik, hari Selasa, 28 Juni 2011 ;) –Hari Ke Delapan KKNku ;D
Kalimat itu, muncul setelah beberapa hari ini aku menjalani tugasku sebagai koordinator tim dan rapat dengan Perhumas Muda Yogyakarta kemarin sore. Lelah dan pusing di lokasi KKN, menjadi hal yang unik tiba-tiba setelah rapat dengan teman-teman lintas kampus itu. Seharusnya, seharian beraktivitas membuatku lelah, tapi justru membuat semangat berkobar.
Sedikit cerita,, hehe.. awalnya, mengorganisir teman-teman yang baru (belum pernah kerjasama sebelumnya) terasa sangat berat. Ini itu macet, jadwal ini itu kacau, dan kurang banyak yang bisa diharapkan saat kita mengerjakan yang lain. Aku memang punya mimpi KKN ini akan menjadi record baruku, jd aku benar-benar khawatir kalau sampai dia berjalan tidak mulus.
Tapi Tuhan memang baik, saat kita berusaha selalu akan ada jalan. Akhirnya, sponsor satu per satu datang. Dan sore kemarin pun datang. Rapat pertama Perhumas Muda Yogyakarta dengan aku sebagai bendahara. Aku suka! Rapat program, ketemu orang-orang yang smart, bersama-sama menjadi mahasiswa yang mencoba mencari eksistensi dengan berkarya ;)
Judulnya, PMY Go Public!
Siap? Tunggu cerita selanjutnya ya.. ;)
Jogonalan Lor, Selasa, 28 Juni 2011
__Intanian__
KKN. Kuliah Kerja Nyata.
“Ajang piknik”, begitu kata pacarku.
“Jadi kuli”, begitu ucap adik angkatanku.
Apa itu KKN? Di dalam bayanganku, hal ini adalah saatnya seorang ‘calon sarjana’ turun ke lapangan dan membuktikan ilmunya di bangku kuliah itu bisa bermanfaat untuk masyarakat. Haha… mahasiswa banget ya? Iya. Seringkali aku memang menjaga pikiranku untuk tetap idealis ala mahasiswa, walau sebenarnya aku tahu, sekian persen aku sedang membohongi diriku. Inilah cara aku memecut keras-keras diriku sendiri.
Semangatku sudah sangat ’45! Lalu?
Ada sedikit cemas. Aku khawatir aku tidak melaluinya dengan prestasi yang bagus. Banyak faktornya… yah, tapi lagi-lagi aku mengingatkan diriku agar tidak kalah sebelum bertarung. Aku Pasti Bisa!! Ini kan mirip-mirip kegiatan EO sebenarnya,, hanya saja sedikit berbeda. Meng-handle 20 kepala untuk 29 program dalam waktu 40 hari KKN, rasanya berat tapi menantang ;) Let see…what can I do for this..?
OK!
Aku sengaja menulis ini, untuk membagi pengalaman KKN-ku yang dimulai besok, Senin 20 Juni 2011, yang kebetulan dibarengi pelatihan skripsi dan pembukaan acara akbar Communication Fiesta dengan aku di bagian sie acara. Hehe.. sepertinya akan jadi record yang bagus buat CV-ku nanti. Kita lihat bagaimana kegiatan KKN yang kontroversial ini berlangsung selama 40 hari ke depan ;D
Yah, aku baru sadar KKN itu kontroversial. Dia benar-benar menantangku untuk menyelesaikan tantangan ini.
Bagaimana tidak? teman-teman hampir saja demo untuk meminta kebijakan kampus merubah KKN menjadi magang. Persepsi tentang kegiatan KKN di kalangan mahasiswa sudah sedemikian menyesakkan, dan mau tidak mau itu mempengaruhi persepsi di kepalaku juga. Tapi di sinilah saatnya kedewasaan kita diuji. Antara terbawa pemikiran dan dikendalikan persepsi, atau melihat kebaikan dari kenyataan di depan mata.
Hanya dua yang dia tawarkan, kebanggan atau kekecewaan. Saat aku melewatkan momen ini tanpa prestasi, sudah pasti, aku akan kecewa berat. Jadi, pilihannya tinggal satu : lalui dengan penuh prestasi ;) Lalu akan aku katakan dengan lantang bahwa hal itu mungkin akan menjadi perubahan sejarah untuk diri kita.
Aku selalu percaya, di dunia ini ada satu kata yang bisa merubah semuanya, kata itu adalah KETULUSAN. Aku yakin, saat kita tulus melakukan tugas kita, buah yang akan kita dapat adalah kesempatan demi kesempatan yang sambung-menyambung di kemudian hari. Apapun yang akan terjadi, aku akan berusaha sepenuh hati melakukannya.
Siap jadi koordinator tim KKN 40 hari ke depan ;)
Melakukan yang terbaik, ITU SAJA ATURAN MAINNYA. ^_^
Jogonalan Lor, 19 juni 2011, 19.08 p.m
__Intanian__





