Pejabat Adalah Bentuk Loyalitas Lebih  

Posted by: Intan Lingga in

Menjadi pejabat struktural di sebuah institusi pendidikan adalah bentuk loyalitas yang lebih. Bagi seorang dosen, di samping mengajar, kemampuan dan kompetensi dosen diperlukan untuk bertanggung jawab di bidang akademis maupun kemajuan universitas. Kedua-duanya harus dilakukan seiring sejalan, dengan tanggung jawab yang sama besarnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ir. H. M. Dasron Hamid, M.Sc, saat memberi sambutan pada acara Pelantikan Pejabat Struktural Baru di Lingkungan UMY, Sabtu (31/12) bertempat di Rektorat UMY. 

Dalam acara ini, UMY melantik 85 pejabat struktural baru di lingkungan UMY. Pejabat yang dilantik akan menjabat sampai 31 Agustus 2013. Pejabat struktural yang dilantik meliputi direktur, ketua program, dan sekretaris program pascasarjana, ketua progam studi (kaprodi), sekretaris program studi (sekprodi), koordinator laboratorium, dan kepala tata usaha. 

Dasron berharap agar para kaprodi dan sekprodi yang dilantik dapat menjalankan pekerjaannya dengan amanah. “Sebagai dosen, para kaprodi dan sekprodi tidak hanya bertanggung jawab atas akademis, tetapi bagaimana agar dapat menjalankan program yang telah ditetapkan universitas dengan amanah. Karena hal itu merupakan konsekuensi sebagai pimpinan dan harus dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya. 

Dasron menambahkan, memimpin maupun me-manage proses akademik merupakan tanggung jawab yang sama pentingnya. “Dosen yang menjabat harus dapat mensinergikan proses akademik maupun non akademik secara lebih terstruktur. Sebagai pengajar, dosen wajib memaksimalkan kompetensi akademisnya demi kemajuan mahasiswa. Sedangkan sebagai pejabat struktural, dosen juga wajib memaksimalkan program-program yang dituju oleh kampus, yaitu mewujudkan UMY yang Unggul dan Islami,” pungkasnya.  


RELEASE :




Apalah Arti Nilai A, Saat Tidak Bisa Membunyikannya  

Posted by: Intan Lingga in

Penelitian harus memiliki manfaat. Selain manfaat, tolak ukur penelitian yang unggul adalah bagaimana sebuah penelitian atau riset dapat memberikan dampak. Artinya, ada pencapaian-pencapaian baru yang bisa ditunjukkan. Ketika menulis, seorang peneliti harus bisa membaca dengan baik kemanfaatan tulisannya. Karena apalah arti nilai “A”, saat tidak bisa membunyikannya.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Yulizar D. Sandrego, Kepala Litbang STEI Tazkia Bogor, saat menjadi pembicara dalam Workshop “Penyusunan Proposal Penelitian Bersama, Kaitan Antara Industri dengan Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan Ekonomi Syariah”, Jumat (30/12) pagi, bertempat di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi dan Perbankan Islam, Fakultas Agama Islam (FAI) UMY, bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Ekonomi Syariah (ADESy). Acara ini digelar dengan maksud agar peserta memahami isu-isu aktual mengenai praktik keuangan dan ekonomi Islam di Indonesia.
Dalam ceramahnya, Yulizar menyampaikan bahwa peneliti harus punya jiwa enterpreneur. “Tidak hanya pedagang barang yang harus punya jiwa enterpreneur, peneliti pun harus punya. Bukan barang yang dijual, melainkan ide. Ide tersebut harus bisa dituliskan, dapat dibuktikan secara rasional, dan memberikan manfaat lebih,” ungkapnya.
Menurut Yulizar, menulis adalah salah satu cara menjaga kejeniusan. “Apalah arti IPK tinggi, tetapi otak kanan tidak bisa jalan. Begitu juga nilai A, tapi tidak bisa membunyikan. Menuliskan penelitian, berarti kita mengasah pemikiran, dan berusaha bersimpati dengan permasalahan ekonomi di Indonesia. Penelitian harus dapat memunculkan isu baru, yang solutif,” tuturnya.
Sementara pembicara lain yang dihadirkan, Dr. Siti Murniati, wakil ketua STEI Hamfara Yogyakarta, mengungkapkan hal senada. “Ketika menulis, sebenarnya kita berangkat dari fenomena. Hal tersebut bisa jadi sederhana saja, seperti Columbus yang berpikir mengenai bumi itu bulat. Pada awalnya, banyak orang menghujat. Tapi delapan tahun kemudian, dia berhasil membuktikannya dan memberikan pemahaman baru bagi umat di dunia,” ujar peneliti tentang “Kepatuhan Syariah di Perbankan” ini.
Siti menambahkan, dalam penelitian, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan. “Penelitian harus memiliki manfaat, metodologi yang mendukung dan terukur, data yang lengkap, dan teori yang melandasi. Dengan memperhatikan poin-poin tersebut, maka penelitian kita akan lebih mudah untuk diimplementasikan, dapat diukur, dan datanya valid,” jelasnya.




Pakar Hukum Jepang Kunjungi FH UMY  

Posted by: Intan Lingga in


Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FH UMY) menerima kunjungan tiga akademisi dari Jepang.  Mereka adalah Prof. Kusano Yoshiro, Prof. Tatsuki Inada, dan Dr. Nagao Satoru. Ketiganya berasal dari School of Law Gakushuin University, Tokyo. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka menjalin kerjasama Fakultas Hukum Gakushuin University dengan FH UMY. Dalam pertemuan ini, FH Gakushuin menawarkan kemungkinan memberikan beasiswa bagi dosen FH UMY untuk melakukan riset di Jepang. Sebaliknya, pihak FH UMY menawarkan Summer Course on Islamic Law, seperti yang sudah pernah dilakukan di Charles Darwin University Australia.

Hal ini disampaikan oleh H. Muhammad Endrio Susilo, S.H., MCL., saat ditemui di sela-sela acara kunjungan, Kamis (29/12) pagi di Gedung Rektorat UMY. 

Endrio berpendapat, kerja sama ini merupakan kesempatan bagi dosen FH UMY untuk melihat dunia internasional. “Jepang adalah negara yang sangat maju dalam hal mediasi. Perkembangan mediasi di Indonesia tidak lepas dari kontribusi Prof. Osano.  Bahkan, saat Mahkamah Agung (MA) membuat perundang-undangan tentang mediasi, itu adalah hasil studi banding ke Jepang. Diharapkan dengan melakukan riset di Jepang, akan membawa banyak sumbangsih bagi dunia hukum di Indonesia,” ungkapnya. 

Belajar Hukum ke Jepang, Endrio melanjutkan, lebih sesuai untuk Indonesia. “Secara basis budaya, Jepang lebih mirip dengan Indonesia. Apa yang dianggap benar dan tidak benar, antara Jepang dan Indonesia jauh lebih sesuai, daripada kita belajar ke Eropa. Jepang dan Indonesia sama-sama orang Timur,” jelasnya.

Masih menurut Endrio, selain hal tersebut di atas, kesempatan ini juga merupakan kesempatan bagi dosen untuk aktif di dunia riset ilmiah. “Dengan melakukan riset di Jepang, dosen akan lebih terbuka wawasannya. Selain itu, hal ini juga akan berdampak pada kepercayaan diri dosen. Bagi FH sendiri, secara pragmatis, poin akreditasi akan terus meningkat,” tuturnya. Rencananya, para tamu akan langsung bertolak ke Jepang seusai ramah tamah dan makan siang bersama pimpinan UMY.




Kunjungan PMY ke Tribun Jogja, Rabu, 28 Desember 2011  

Posted by: Intan Lingga in




Kalangan Akademisi Jadi Favorit Capres 2014 Versi Wong Jogja  

Posted by: Intan Lingga in

Masyarakat Yogyakarta lebih menginginkan calon presiden (capres) 2014  yang berasal dari kalangan akademisi dibanding kalangan profesi lain, bahkan politisi sekalipun. Dari 510 orang responden, yang merupakan warga Yogyakarta, sebanyak 129 responden memilih Capres dari profesi akademisi. Kalangan birokrat hanya dipilih oleh 108 responden, sedangkan politisi 95 responden, sisanya menginginkan capres dari kalangan pengusaha, tokoh agama, dan lain-lain. Menurut Dosen Ilmu Pemerintahan UMY Dian Eka Rahmawati, SIP., M.Si, mungkin masyarakat sudah mulai jenuh dengan politisi yang citranya semakin buruk.

Hal ini disampaikan Dian saat memaparkan hasil polling dalam acara “Pemaparan Hasil Polling dan Diskusi Akhir Tahun – Capres Ideal 2014 Versi Wong Jogja”, Kamis (22/12) bertempat di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tim polling adalah para dosen Ilmu Pemerintahan UMY.

Dian menjelaskan beberapa aspek yang diteliti berikut hasil pollingnya dalam diskusi ini. “Selain kategorisasi capres, dalam polling juga ditanyakan mengenai aspek usia, jenis kelamin, pendidikan, primordial, kapasitas pribadi, dan profesi capres. Untuk aspek usia, pilihan masyarakat cukup seimbang baik usia muda maupun tua. Artinya, masyarakat tidak terlalu mementingkan apakah capres itu tua atau muda. Untuk jenis kelamin, 57,45% responde memilih capres laki-laki, 38,43% boleh laki-laki dan boleh perempuan, sisanya 4,21% memilih perempuan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dian menambahkan, saat ini kesukuan capres tidak lagi harus Jawa. Masyarakat Yogyakarta juga lebih menginginkan capres dari kalangan sipil dibanding militer. Sebanyak 57,65% atau sekitar 283 orang menginginkan capres 2014 berasal dari rakyat sipil. Sedangkan untuk kategori capres dari militer, dipilih oleh  35,29%  atau sekitar 176 orang, sisanya 7,06% netral. “Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran pilihan, yang sebelumnya lebih dominan militer, menjadi dominan sipil. Hasil polling juga mengindikasikan bahwa, mungkin saja masyarakat kecewa terhadap militer yang tidak kunjung bisa memperbaiki keadaan negara, khususnya di bidang ekonomi, sosial, dan lain-lain”, tandasnya.

Perumahan Hemat Energi Untuk Pegawai UMY  

Posted by: Intan Lingga in




Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyediakan perumahan hemat energi untuk pegawainya. Perumahan ini terletak di Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul Yogyakarta. Tanah seluas 100.000 m2 ini akan dibuat 102 buah kavling, dengan rata-rata luas 80m2 per kavling. Ditargetkan, 25 buah rumah pertama akan selesai dibangun dalam tenggat waktu enam bulan. Perumahan dan jalan di sekitarnya akan menggunakan penerangan sistem solar cell yang merupakan hasil penelitian mahasiswa UMY. Sistem solar cell merupakan pemanfaatan sinar matahari dengan menggunakan panel surya, yakni panel yang dapat menyerap tenaga matahari untuk disimpan ke dalam baterai.

Dr. Suryo Pratolo, M.Si, Akt, Wakil Rektor II, menyampaikan hal tersebut pada acara Peletakan Batu Pertama Perumahan Pegawai UMY, Selasa (20/12) pagi, bertempat di Desa Bangunjiwo. 

Suryo Pratolo menjelaskan, UMY akan menyediakan fasilitas umum di perumahan tersebut. “UMY akan membantu pembangunan fasilitas umum seperti jalan, drainase, pematangan tanah, dan lain-lain. Penerangan yang akan dipakai merupakan upaya penerapan dari hasil penelitian mahasiswa UMY, yakni berupa solar cell.  Dengan demikian, perumahan ini menjadi perumahan yang hemat energi,” ungkapnya.

Perumahan ini, masih menurut Suryo, disediakan untuk seluruh pegawai UMY. “Total jumlah kavling yang disiapkan adalah 102 buah. Rumah dengan tipe 36 ini dapat diangsur sampai 15 tahun. 25 rumah tahap pertama disiapkan bagi 25 pendaftar pertama,” tambahnya.

Ditemui di tempat yang sama, Rektor UMY, Ir. H. M. Dasron Hamid, M.Sc, mengatakan bahwa program perumahan pegawai adalah bentuk kepedulian UMY kepada para pegawainya. “Upaya menyediakan perumahan pegawai menjadi sebuah gagasan yang dirancang untuk menyejahterakan para pegawai UMY. Harapannya, pegawai akan lebih fokus dalam meningkatkan kinerja. Hal ini dilakukan demi menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat. Dengan hadirnya perumahan ini juga, diharapkan akan membawa peningkatan untuk perkembangan Desa Bangunjiwo,” ungkapnya. 

Sementara Supriadi, salah satu staf Pusat Pelatihan Bahasa UMY, menyambut antusias hadirnya perumahan ini. “Saya sangat senang dan berterima kasih, karena akhirnya bisa mendapatkan rumah, walau mengangsur. Tapi hal ini merupakan sebuah berkah bagi saya dan keluarga,” ujar pegawai yang telah bekerja selama 16 tahun di UMY.

Jumlah Mahasiswa PTAI Masih Minim  

Posted by: Intan Lingga in

Indonesia perlu meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) menjadi 40% untuk Perguruan Tinggi. Hal ini menjadi kebijakan Kementrian Agama RI di tahun 2025 mendatang, demi Indonesia yang lebih maju. Saat ini, APK Indonesia baru mencapai angka 18,7%. Dari angka tersebut, prosentase Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) memiliki proporsi 2,1%. Artinya mahasiswa yang bersekolah di PTAI baru berjumlah 566.000 orang. Untuk itu, PTAI tidak perlu membatasi pendaftaran mahasiswa. PTAI seharusnya justru meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa serta meningkatkan kualitas pembelajaran baik dosen maupun sarana dan pra sarana. Hal ini penting dilakukan, karena sebenarnya peluang kerja bagi sarjana Agama Islam masih terbuka lebar.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. H. Dede Rosada, M.A, Direktur Diktis Kementrian Agama Republik Indonesia, saat menjadi pembicara dalam acara “Diseminasi Pengembangan Prodi Studi Islam di Perguruan Tinggi Agama Islam”. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Agama Islam UMY, Sabtu (17/12) bertempat di Kampus Terpadu UMY.

Menurut Dede, peningkatan kualitas dosen bisa dilakukan dengan beberapa cara. Antara lain melalui penguatan kualitas pendidikan, loyalitas, dan akuntabilitas dosen. “Dosen tidak perlu pintar, tapi harus bisa memintarkan mahasiswa. Selain itu dosen pun harus rajin menulis baik jurnal maupun buku. Dengan membuat sendiri jurnalnya, dosen akan sangat menguasai dengan baik materi kuliahnya dan siap ditanyai kapan saja oleh mahasiswa. Hal ini akan membawa kepuasan tersendiri untuk mahasiswa,”ungkapnya.

Lebih lanjut Dede menambahkan, dosen dituntut untuk loyal dan sering berada di kampus. Menurut penelitiannya, tidak ada kaitannya brosur dan iklan dengan ketertarikan mahasiswa mendaftarkan diri di sebuah kampus. Mereka lebih banyak mendaftar karena ada rekomendasi dari mahasiswa sebelumnya. “Keberadaan dosen di kampus menjadi hal yang penting. Karena dengan siap ditemui di kampus setiap saat, mahasiswa akan merasa diperhatikan. Hal ini juga menyangkut loyalitas dan akuntabilitas dosen. Hal ini harus disadari oleh para dosen, selama dosen masih suka nyambi, tentu akan berbeda efeknya. Sebaiknya dosen fokus untuk meningkatkan kualitasnya sebagai pengajar. Bisa dengan menulis jurnal, sehingga dosen benar-benar menekuni profesinya dan terus produktif,” tambahnya.

Hindari Jajan Sembarangan, Ibu Harus Siapkan Bekal Sehat & Menarik  

Posted by: Intan Lingga in

Kebiasaan makan makanan yang sehat, harus dimulai sedari kecil. Hal ini penting dilakukan agar anak tidak terbiasa jajan di luar rumah. Selain tidak higienis, jajanan anak yang dijual di jalanan biasanya mengandung pewarna, pengawet, pemanis, dan lain sebagainya yang berdampak buruk dalam jangka panjang. Dalam waktu dekat, jajanan tidak sehat bisa menimbulkan diare. Untuk waktu yang lebih lama, makanan tidak sehat bisa menjadi racun di dalam tubuh yang berpotensi memicu kanker. Karena itu, penting bagi para Ibu untuk bisa menyediakan bekal sehat untuk anak saat bersekolah. Agar anak tertarik, bekal dapat dibuat semenarik mungkin.

Hal ini dituturkan oleh Paramitha Fajarin Nova, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta seusai acara Sosialisasi “Bekal Sehat Ibu Kreatif, Anak Pun Cerdas”, Kamis (15/12) pagi bertempat di SD Ngrukeman, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
Dalam acara ini, Paramitha, beserta teman-temannya yang menamakan diri “Be Healthy”, bekerja sama dengan Kukuh Diki Prasetya, Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan UMY. “Kukuh memberikan penyuluhan kepada wali murid kelas 1 SD Ngrukeman tentang pentingnya mengkonsumsi makanan sehat. Para Ibu diberi pengetahuan tentang bahayanya jajan sembarangan, karena penyakit yang timbul memang tidak bisa langsung dirasakan. Namun racun dari makanan yang tidak sehat akan tertimbun dan menjadi ancaman kesehatan di kemudian hari, “ ujarnya.

Paramitha menambahkan, dalam acara ini juga dihadirkan koki untuk mempraktekkan bagaimana mengemas makanan yang sederhana menjadi unik, sehingga menarik bagi anak-anak. “Koki yang dihadirkan membuat nasi goreng sederhana yang dihias dengan berbagai sayuran, yang dibentuk menyerupai tokoh kartun seperti Doraemon dan Spongebob. Anak-anak SD yang ada di ruangan pun terlihat antusias dengan menu yang dihadirkan. Dengan ini, diharapkan anak-anak tidak lagi tergiru dengan jajanan yang tidak sehat,” tambahnya.

Sementara Kepala Sekolah SD Ngrukeman, Ibu Mugirah, S.Pd, mengaku senang dengan kegiatan ini. “Dengan acara ini, semoga para orang tua (Ibu) mendapatkan informasi tentang pentingnya makanan sehat dan mulai tertarik untuk mencoba tips-tips membuat makanan menjadi menarik. Karena kita tahu, kesehatan adalah hal yang sangat penting,” ujarnya. 


RELEASE : OKEZONE

Dokumentasi acara =)



 Jadi.. ini dia Adik-Adik SD Rukeman yg lag nyantap hasil masakannya =)




 Ini hasil Masakannya, lucu kaaaaaaaannn ;)



 Ini Kepala Sekolah SD Ngrukeman/Rukeman, Ibu Mugirah, S.Pd


 Proses Masak-Memasak ;)



Horeeee =)

Selamat buat Panitianya yaaaaa... Noni dan teman-teman, Ilmu Komunikasi UMY 2008. Trims juga buat kesempatannya nge-MC ;D